Apa kabar blog gue ini? Berapa tahun gue gak posting apapun
disini? Oke ini berlebihan. Gue yakin lo semua udah pada kangen sama gue
kan? Kangen sama postingan-postingan gue
kan? Pasti didalam hati lo semua ‘mana
nih postingan tolol selanjutnya’ gitu kan?
Dasar makhluk-makhluk kejam.
Sorry, baby.
Gue bukannya sengaja gak posting-posting. Gue hanya sedang dalam beberapa masalah. Kalau orang-orang bilang ‘gak usah
membesarkan masalah deh, cuma gitu
doang.’ Cuma gitu doang? Masalah ya tetap aja masalah. Itu hukum alamnya, memang kodratnya seperti itu.
Calm down, baby.
Gue tetap setia untuk disamping lo semua, readers sejati gue, yang always keep reading on my blog until now, dengan cerita-cerita konyol gue. Cerita yang berdasarkan dari kisah hidup
nyata seorang pujangga gagal masih di bawah umur yang tetap dan selalu mencoba
untuk jujur dalam setiap katanya yang gurih,
menyegarkan, fantastic, amazing...
Sorry gue berlebihan.
Thanks
ya buat kalian yang selalu ada disamping gue dan didepan layar internet kalian
untuk membaca postingan-postingan gue.
Apalah arti sebuah blog tanpa para readersnya. So,
thats why I’m stare in front of my laptop and always share something in
my blog to you all. Biar lebih berkesan kalau gue anak blog.
Oke
langsung aja, gue lagi ada ide buat
bikin novel kecil gitu, sebenarnya sih
udah niat daridulu, cuma gara-gara males
aja, jadi gak kelaksanain gitu
niatnya.
Gue ngambil tema tentang kisah
persahabatan 5 sekawan. Tentunya didalamnya ada unsur percintaan
tolol-nya juga, itu pasti. Jadi kayak kejebak dalam cinta segitiga. Kenapa?
Pasaran? Enggak kok, emang dipasaran yang bikin menarik itu yang
model-model begini, makanya gue
masukkin. Why always love? Cause, love; live it... Share it. Temanya bukan cuma itu kok, masih banyak. Life is adventure, tentunya gue bakal masukkin segala tentang
petualang di dunia mereka ini, intinya
gue mau nunjukkin ‘Ini hidup’. Yang
pengen gue ceritain emang cuma itu aja.
Ya... Mungkin semacam ‘Laskar
Pelangi’ gitu, tapi, tetep beda kok. Oke daripada lo semua kebanyakan membayangkan
yang aneh-aneh tentang novel kecil yang lebih tepatnya disebut cerbung
ini, mending langsung lo baca. Judulnya;
Cerita Hidup Kita.
Sore yang tidak
terlalu cerah. Langit sedang dikuasain
oleh awan mendung yang sedikit meredupkan cahaya matahari. Di daerah perumahan seperti ini, ada ibu-ibu yang sibuk ngangkatin jemurannya
yang mungkin belum benar-benar kering dengan raut wajah yang seolah-olah
berkata ‘jemuran ku iki belum kering yo,
wes hujan nih udah mau turun aja’,
ada juga bapak-bapak yang sedang berkumpul dengan bapak-bapak lainnya
seolah-olah mereka sedang mengadakan arisan khusus bapak-bapak dengan ditemani
papan catur dan secangkir kopi yang dibuatkan oleh istri-istri mereka, dan anak-anak yang sibuk bermain
layangan, meskipun mereka tahu, sebentar lagi hujan akan mendera daerah
tempat mereka bermain, mereka tetap
melanjutkan permainannya, seolah-olah
mereka berkata ‘iki belum hujan toh,
kenapa kita harus masuk? Wes kita
main aja, yo.’.
Thomas anak yang tidak
pernah peduli terhadap alam sekelilingnya.
Memang cenderung aneh untuk seorang perempuan kuliahan sepertinya. Ya dia anak perempuan. Tidak seperti perempuan lainnya yang memiliki
rasa perhatian terhadap alam sekitarnya,
lembut dan sedikit manja. Dia
dingin kepada siapapun. Tidak... Dingin disini bukan berarti dia saat disentuh
terasa dingin seperti es, namun hatinya
lah, yang dingin bahkan mungkin sudah beku
dan sulit dicairkan oleh siapapun.
Jangankan untuk perhatian terhadap sesuatu, untuk sekedar mengingat atau mengenali alam
sekitarnya saja bagi dia hanya membuang-buang waktu. Apalagi manja, dia sering disebut anak hutan, karna benar-benar sifatnya seperti
orang-orang yang tersesat didalam hutan,
tidak mengenali siapapun, setiap
bertemu orang-orang terlihat seperti menghindari, tetapi ia sangat mampu menjaga
kemandiriannya.
‘Sore sesuram ini pada
main? Mending juga dirumah ngerjain
tugas, gak penting banget kayak mereka
gitu. Ah, ngapain juga gue pikirin? Peduli amat gue.’ Kata Thomas ketika melihat kerumunan
anak-anak yang sibuk bermain disuasana sore yang sangat dingin seperti hatinya
diluar sana. Saat sibuk mengerjakan
tugas, tiba-tiba aja ia teringat akan
silinong, nama macam apa itu?. Itu nama yang diberikan Thomas kepada salah
satu senior yang sangat ia benci.
Silingong itu merupakan singkatan dari Sipit, nyebelin,
songong. Sebenarnya ia sudah lama
sadar bahwa sebutan yang ia berikan kepada seniornya itu semacam panggilan
kesayangan kepada orang yang ia benci.
Tapi mau diapakan lagi? Dia sudah
terlanjur nyaman dengan sebutan konyol itu.
Thomas teringat saat pertama kali melihatnya, seorang senior bergaya aneh, yang sangat songong kepada
teman-temannya. ‘Sipit, jelek,
nyebelin, songong... Halah, masih banyak buruknya aja gaya. Loh,
apa ini?! Kenapa gue jadi peduli
amat ama dia? Kepikiran gini? Hih geli gue.’ Katanya dalam hati. Dia langsung memfokuskan fikirannya pada
tugas yang ia kerjakan.
Pagi-pagi sekali, ia berangkat ke Kampus. Dia terbiasa datang pagi hanya untuk berdiam
diri mencari-cari ilmu yang bermanfaat baginya di Perpustakaan. Saat sudah dekat dengan Kampusnya, ia melihat Silinong lewat didepannya. Dengan helm putih dan motor Revo warna merah
yang masih terlihat mulus. ‘Hih, ketemu orang ini lagi. Bosen amat gue. Ngapain dateng pagi ini orang? Ngikutin gue kali ya? Jangan-jangan pertanda buruk buat gue? Hahahaha.’
Bisiknya kecil. Dia melanjutkan
perjalanannya menuju Perpustakaan.
Saat sampai di
Perpustakaan. Dia langsung menaruh
tasnya ditempat ia terbiasa duduk setiap harinya saat di Perpustakaan. Sibuk mencari buku-buku menarik yang mungkin
dapat menjadi tema Makalahnya yang ingin ia buat. Mencari... Mencari... Dan terus mencari. Sibuk mencari. Seperti orang-orang disekitarnya yang sibuk
mencari dimana hati dewi musim seminya terpendam. Saat sudah menemukan beberapa tumpukan
buku. Dia berjalan menuju tempat
duduknya. Tiba-tiba saja ada si Silinong
duduk disamping tempat ia duduk. ‘Apaan
nih? Gue harus pindah? Gue udah 3 bulan duduk disitu terus tiap baca
buku. Ngusir dia? Emang Perpustakaan ini punya nenek moyang
gue.’ Thomas dilanda labil tingkat
dewa. Dia berdiri termenung memikirkan
cara bagaimana ia bisa duduk tenang ditempatnya itu, tanpa harus duduk bersampingan dengan orang
yang ia benci itu. Saat sedang
memikirkan cara, Silinong merasa bahwa ia
sedang di perhatikan, ‘Kenapa? Mau duduk?
Yaudah sih duduk aja. Lebay
banget. Perpustakaan bukan punya lo doang
kali.’ Kata-kata yang membuat hati
Thomas tertegun. Dia diam seribu
bahasa. Di campur dengan rasa cueknya, ia berusaha duduk tenang disamping
Silinong. ‘Kenapa feel gue gini? Ampun!
Gue gak kuat samping dia! Gue
harus pindah! Gue baca dikelas aja deh.’
Sebutnya dalam hati. Ia terburu-buru
membereskan bukunya dan segera pindah ke kelasnya. Yang berada di lantai 2 di Kampusnya
itu. ‘Haha, salting gitu?
Lucu juga tuh anak.’ Sebut
Silinong yang juga bergegas pindah ke Kelasnya karna bel sudah berdering.
Didalam kelas Thomas
terus terbayang akan kejadian di Perpustakaan tadi. Ia bahkan tidak memperdulikan perkataan dosen
pembimbingnya di depan. ‘Dorrr...
Ngapain lo bengong aja? Wah... Interaksi sama orang makanya, bro.
Hahaha’ Sapa seorang kawan dekatnya,
si Jilan, Jidat Lohan, lagi-lagi sebutan konyol si Thomas kepada
kawannya. ‘Gue bingung, kenapa gue kepikiran senior songong si
Silinong itu terus? Penting banget
kayaknya. Apa ini?.’ Pertanyaan yang terlontar oleh Thomas kepada
kawannya itu. Apa ini? Mengapa seperti ini?.... Bersambung.
Gimana menurut lo
semua? Greget enggak? Ah coba bagi lo yang udah baca. Share pendapat lo di Box Comment dibawah ini. Thanks for reading. Tunggu kelanjutannya ya, Salam Greget.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar