Buat
semua pembaca setia blog gue, maaf
membuat kalian menunggu akan postingan-postingan gue, lagipula gue juga tau, pasti yang ada diotak lo semua ‘mana nih
postingan tolol selanjutnya?’. Kangen
kan sama gue? Gue emang tipe orang yang
dikangenin. Kangen karna utangnya. Meskipun
kalian setega itu sama gue, gue tetep
ikhlas nemenin lo semua dengan postingan-postingan gue kok, eh iya…
Jangan lo kira memposting sesuatu berdasarkan pengalaman pribadi ataupun
inpiratif dari orang itu segampang meng-copy-paste-tugas-dari-google-ke-microsoft
word, butuh waktu dan pengalaman yang
cukup. Kenapa gue jadi curhat?.
Back to story of my love,
kali ini gue mau ngebahas soal Pratama lagi.
Ngumpung lagi hujan, seakan-akan
gue seseorang yang terus berharap ama orang yang dia taksir dan sedang
memikirkannya saat hujan-hujan seperti ini.
Gue? Bosen ngebahas Pratama
terus? Bosen baca tentang dia mulu? Yaudah gak usah dibaca. Gue gak maksa kok. Asal
lo tau, kalau orang lagi ‘In love’ pasti mereka semua akan berubah jadi sangat
aneh dalam seketika.
Tepat
tanggal 4 April, entah kenapa, jadi tanggal yang pengen gue tulis dan bagikan
cerita didalamnya ke lo semua.
Jadi
tepatnya pukul setengah 3 siang kalau gak salah (kalau gak salah ya bener, lah?)
jadi itu, ada guru yang paling
asik dan deket ama anak-anak murid,
sebut saja Pak Arief (namanya gak gue samarin kok, bego.)
jadi saat itu gue lagi main laptop,
lagi bebas, seharusnya saat itu
gue dan kawan-kawan pramuka, namun cuaca
tak mendukung, saat itu sedang hujan. Cuaca tepat banget buat online. Saat itu gue
online deket kamar mandi sekolah gue,
kenapa? Karna disitu adem. Tiba-tiba aja, Pak Arief datang menghampiri gue dan seperti
menyindir-nyindir gue tentang kisah cinta gue yang seharusnya seorang guru itu
tidak mengetahuinya, dia mengeluarkan
kata-kata seperti,
‘gimana, Mik,
mau ngomong gak?’
‘ayo
jangan buang-buang kesempatan.’
‘berani
gak?’
Dan
kata-kata absurd lainnya. Gue yang lagi
asik online menanggapinya sambil cengengesan.
Tiba-tiba aja dia masuk ke kelas Pratama, dia wali kelas di kelas si Pratama. Awal dia masuk kedalam, gue udah punya firasat dia bakal melakukan
hal gila yang sudah biasa dia lakukan.
Gue tetep fokus sama laptop.
Tiba-tiba saja, ditempat dia
berdiri, tepat disamping gue, ada yang menggantikan. Gue sedikit melirik ke celananya, ternyata dia menggunakan celana coklat
pramuka. Saat gue liat mukanya, ternyata si Pratama ngeliatin gue. Oh ternyata benar… Guru itu…
Dia tega nyaris membuat jantung gue berlarian kemana-mana. Gue deg-deg-an setengah mampus, mencoba untuk tetap tenang dan terlihat keren
depan Pratama. Anjrit, gue bener-bener salting. Gue bungkam. Gue nyaris beradaptasi menjadi pohon karna
saking deg-deg-annya. Tiba-tiba aja dia
masuk lagi ke kelas sambil berkata sesuatu yang terdengar sedikit samar di
telinga gue.
Gue
mau bersujud syukur saat itu.
Akhirnya, jantungku… Kamu sudah dapat berdegub dengan
tenang juga.
Tiba-tiba, Pak Arief keluar dari kelasnya lagi, menggantikan posisi Pratama lagi, apa ini?
Kenapa mereka bergantian terus berdiri diposisi itu? Apakah mereka bapak dan anak yang punya
keterikatan batin? Atau mereka saudara
sepersusuan? Oh tidak, gue lupa ngangkat jemuran.
Pak
Arief berkata,
‘siapa, Mik,
tadi yang keluar?’
‘Gatau’ jawab gue polos.
‘siapa,
Mik, tadi yang keluar?’ Pak Arief
mengulangi pertanyaannya secara sengaja.
‘Gatau’
gue masih polos.
‘Alah
deg-deg-an juga itu kan? Biasa aja dong
ngomongnya, jangan ngos-ngos-an gitu.’
‘apaan
sih, kerja, Pak,
kerja.’ Gue pura-pura menahan senyuman.
Malu-malu ikan lele.
‘yeee, haha,
jujur kamu, deg-deg-an kan?’
‘biasa
aja sih, penting banget deg-deg-an.’ Gue
udah ketawa-ketawa gitu.
‘haha
salting gitu.’ Pak Arief berlalu, masuk lagi ke kelasnya.
Apa
ini? Dia bolak-balik cuma untuk membuat
jantung gue muncrat kemana-mana?! Guru macam apa ini? Oh ada apa dengan mu
Arief-Sensei?.
Gue
kira Pak Arief bakal nyuruh si Pratama keluar dari kelas lagi, setelah beberapa lama. Tidak ada yang keluar lagi.
Gue
berfikir (yaiyalah, tolol) bener juga sih kata orang-orang, dengan bodohnya, gue selalu terlihat seperti sombong
terhadapnya. Lebih tepatnya lagi, gue menolak untuk berbicara dengannya. Faktanya?
Gue selalu ingin berbincang dengannya face to face, hanya kami berdua. Sebenarnya sih peluang itu
selalu datang setiap hari, setiap
saat, namun bodohnya, gue menyia-nyiakannya. Kenapa?
Asal lo semua tau, gue selalu
bungkam didepan dia. Saat gue fikir gue
udah berani, ketika dia muncul, gue terdiam.
Gak ada kata-kata yang mampu keluar dari mulut gue. Gue gak berani ngomong sama dia.
Sekitar
pukul setengah 4 sore, gue berdiri
didepan kelas mainan hujan. Gue emang terlihat seperti anak kecil lucu yang
masih lugu bermain hujan-hujan-an sambil senyum-senyum kesenangan. Lo tau gak?
Terkadang saat kita menghadap ke
suatu arah, kita dapat melihat ke arah
lain tanpa harus meliriknya. Seperti
punya mata dibagian lain. Ya, itu semua
karna kita melihat apa yang harus kita lihat. Gue berasa si Pratama lagi
depan kelas sama temen-temennya. Gue tetep aja fokus main hujan-hujanan. Tiba-tiba aja temen gue si Puput datang
menghampiri gue dan berkata ‘eh mik,
daritadi gue liatin si kak Pratama,
ngeliatin lo terus tau.’ Gue
kaget. Gue bungkam. Gue berkata ‘sotau, kalau ternyata bukan?’ ‘kalau ternyata iya?’
si Puput berkata serius. Tak lama
kemudian, dia datang lagi menghampiri
gue dan berkata ‘eh kayaknya bukan deh,
soalnya ada *sensor* samping lo.’
Gue diam. Gue biarkan si Puput
berlalu. Oh ini rasanya nge-JLEB
tiba-tiba. Gue serasa ingin menjatuhkan
diri gue kedalam kubangan air depan gue.
Saat
pulang, gue tetap duduk didepan kamar
mandi. Saat itu masih hujan deras. Gue selalu ngedenger suara si Pratama berbicara
dan tertawa sama temen-temennya, gue
suka senyum-senyum sendiri kalau denger lantunan suara indah itu. Saat dia keluar, ngobrol sama temennya, berjalan ke arah motornya, gue fokus ngeliatin dia. Gue gak bisa mengalihkan penglihatan
gue. Sampai akhirnya dia pergi
meninggalkan gue dengan sejuta harapan gue.
Gue
baru pulang jam 5, hujan-hujanan sendirian, sambil terus memikirkan akan dirinya
itu. Gue berharap tiba-tiba dia datang
naik motor sambil ngomong ‘bareng?
Kasian tuh tasnya basah kuyup.’ Sambil
mengembangkan senyuman manisnya itu. Gue
hanya berharap.
Pada faktanya, gue cuma bisa berharap. Pas kesempatan itu datang, gue malah bungkam. Kesempatan itu datang bagaikan kejutan yang
membuat diri gue terdiam.
Gue cuma bisa berharap-buang kesempatan-berharap lagi-kesempatannya
dibuang lagi, gitu-gitu aja terus. Gue janji kok, gak lama lagi, gue bakal jujur tentang semua perasaan gue
ini ke dia. Gue bakal berbincang ama
dia. Oh iya, buat Pratama,
seandainya dia baca ini, gue suka
sama lo :).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar