Minggu, 30 Juni 2013

Japan in Love

                Terangnya langit mulai meredam,  tanda sang dewa matahari enggan menampakkan sinarnya atau karna sang angin menghembuskan sang awan hingga menutupi keberadaan sang dewa matahari?  Entah.  Mendung,  satu kata yang tepat untuk mengambarkan cuaca ini.  Keadaan sang awan yang tak dapat membendung kesakitan yang ia alami dari air-air hujan,  air-air yang awalnya tidak berada padanya,  berada pada sang lautan lepas,  entah karna jenuh atau karna ingin mendapatkan suasana baru,  air-air itu beralih ke awan,  awan dengan lugu nya tak dapat menolak keberadaan sang air dan dengan senantiasa menerima kedatangan sang bulir-bulir air,  sampai akhirnya ia tak kuasa dengan perilaku air,  saat ia mulai terbawa oleh angin, dan ingin segera melepas air-air itu.  Cuaca yang tak pernah dapat diduga.

            Satu langkah,  dua langkah,  dan langkah-langkah berikutnya yang ditempuh oleh seorang gadis manis bernamakan Taka Atsuko.  Menapaki pinggir jalan dengan mantel bulu berwarnakan coklat krim dan shall dengan warna senada,  sambil mendengarkan beberapa lantunan lagu yang ia putar melalui MP3 miliknya.  Wajah putih pucat dan lesuh yang ia tampakkan saat itu.  Sehabis pulang dari SMA nya.  Berkali-kali ia melihat kearah jam tangan berwarnakan coklat yang ia pakai saat itu,  ‘hujan akan segera turun’  mungkin itu dalam batinnya.  Seperti biasa,  dia menunggu bus berwarnakan merah tua yang biasa ia naikki untuk menuju ke Apartement yang ia tempati.  Sembari menunggu,  ia berulang kali melihat ke sekelilingnya lalu menghela napas,  dapat terlihat jelas,  dia sedang ada masalah. 

           Pemandangan disitu hanya ada rumah-rumah kecil yang tidak terurus,  apartement yang sedang dibangun,  dan...  Tunggu,  diamana kucing kecil berwarna putih yang setiap saat pulang ia pasti melihatnya?.  Kucing kecil bernamakan Oreki,  nama yang ia buat untuk kucing kecil itu.  Beruntungnya kucing kecil itu,  bukan sembarang hal yang dapat diberikan nama oleh Taka.  kucing kecil yang tiap saat Taka melihatnya,  ia berkata “Kawaii desu neko,  ne”.  Taka mencarinya dengan melihat sekelilingnya dengan teliti,  tanpa ia sadari,  bus merah tua yang ia tunggu sudah ada di depannya,  ‘Its not the time to see you,  Oreki.  Where are you?’ Katanya dalam hati sembari menaikki bus merah tua itu.  Saat diperjalanan,  ia terus memikirkan kucing putih kecil itu.  Terus memikirkan,  sampai saat dia melihat lelaki berjaket hitam sedang menggendong kucing kecil yang ia cari.  “Who is he?  I believe,  that is Oreki.  Mengapa Oreki berada dalam gendongannya?”  kata itu keluar begitu saja dari mulutnya,  seorang ibu dari anak kecil yang ibu itu gendong menengok kebingungan dan bertanya “Are you okay?”,  Taka membalas tengokannya dengan menjawab dengan anggukan,  ibu itu hanya menjawab “Yokatta.”  dan mengalihkan padangannya.  Taka yakin sekali,  Oreki  tidak ada yang memiliki,  ia sangat ingin memeliharanya,  namun apa daya?  Peraturan dari tempat ia tinggal nya lah yang melarang seseorang untuk membawa hewan peliharaan ke dalam ruangan.

            Hari yang melelahkan.  Taka langsung melempar tas kecilnya yang berisikan buku-buku  dan notebook miliknya,  sontak ia berkata “Damn.  Oh god,  why?”.  Masalahnya yang membuat ia benar-benar merasakan sangat penat.  Ditambah lagi,  dengan ingatan tentang lelaki berjaket hitam yang menggendong Oreki,  anjing kecil yang ia cintai.  Taka menyalakan perapian yang ada didalam ruangannya,  ia berjalan menuju dapur kecilnya dan membuat secangkir kopi panas untuk menghangatkan dirinya saat itu,  Jepang memang sedang dilanda Salju sejak 2 hari yang lalu.  Taka mendekat ke perapian yang ada didekat kasurnya.  “Siapa laki-laki itu?  Apa dia pemilik Oreki?  Aku seperti sering melihat wajahnya di kelas sebelah.  Orang Jepang atau siswa pertukukaran juga?  Aku harus menemukannya esok hari.” Kata nya.  Ia merebahkan tubuhnya yang mungil namun cukup tinggi diatas kasurnya.  Melepaskan semua penat dalam otaknya.  Lagi-lagi ia menghembuskan napas yang mengisyaratkan,  ia sedang banyak beban. 

           Tanpa disadari,  ternyata pelepasan beban dan penat dalam dirinya itu sekaligus menjadi waktu istirahat panjangnya.  Ia tertidur pulas hingga pagi.  Sudah waktunya ia bersiap-siap berangkat ke tempat ia melanjutkan pelajaran,  sebuah SMA yang lumayan terkenal di Tokyo.  Ia menggunakan jaket berwarna putih polos dan shall dengan warna coklat krim yang kemarin ia gunakan.  Saat itu,  cuaca memang tidak mendukung,  memaksa seseorang yang seharusnya pergi beraktifitas untuk menghentikannya.  Taka juga memang sedikit malas untuk berangkat ke sekolah nya,  namun ia memaksakan,  karna ingin mencari ‘Neko-kun’.  Nama yang saat Taka sedang berdandan fikirkan.  Dia benar-benar ingin tahu tentang lelaki si penggendong Oreki. 

           “If I have a handphone,  pasti semua terasa lebih mudah,  dengan menelepon Haruka untuk menjemput ku.”  Keluh Taka sejenak.  Di jaman dan di negara yang berkembang sangat pesat di Dunia ini,  Taka memang memilih untuk tidak mempunyai handphone,  uang yang pernah diberikan orang tuanya untuk membeli handphone di daerahnya,  ia tabung untuk membeli keperluannya sewaktu-waktu.  Sekarang,  untuk berkomunikasi dengan orang tua nya,  ia menggunakan telepon umum atau telepon pinjaman dari Apartement.  Keluh nya tidak menghasilkan apapun,  tapi,  paling tidak ia dapat mengisi waktu sembari berjalan menghadapi salju yang menerpa nya untuk menuju ke sekolah. 

            Saat di perjalanan,  dia menemukan lelaki dengan jaket hitam yang berlari kencang dari belakang.  Lelaki itu menabrak Taka sampai jatuh,  “Gomen ne.”  Kata lelaki itu dengan membungkukkan badan sejenak dan kembali berlari.  “Wait..  Itu kan lelaki yang.. ?  Ah,  apa benar?  Tepat!  Ia berlari ke arah sekolah pastinya.  Aku akan mengikutinya.”  Taka berlari mengikuti jejak lelaki itu.  Sesampai di depan gerbang,  Taka melihat kedepannya,  lelaki itu sudah menghilang.  Taka sekarang hanya menarik napas dan menghembuskannya berkali-kali,  dadanya sesak,  cuaca dingin dan ia memaksakan untuk bergerak cepat demi mengejar lelaki itu.  Taka terjatuh,  dia terus memegang dadanya dan memukul-mukulnya,  “Need help?”  terlihat gadis cantik yang mengulurkan tangannya kepada Taka,  tanda ia memberi bantuan.  Itu Haruka Morashima.  Teman sekelas Taka.  “Huum,  thank you.”  Taka memberikan tangannya kepada Haruka.  Haruka membantu Taka berjalan hingga ke kelas.  Ternyata,  pelajaran hampir di mulai.  Saat Taka sampai di bangkunya,  “Arigato gozaimasshitta,  Haruka-chan,  without you...”  saat kata ingin melanjutkan katanya,  Haruka langsung menyela dengan “He...  Douita ne.  Are you okay?”  Taka hanya tersenyum dan mengangguk.  Keadaannya sekarang sudah membaik sekarang.  Memang Haruka adalah teman yang sangat ia banggakan sejak awal masuk sekolah ini. 

            Jam pelajaran sudah dimulai sejak 15 menit sebelumnya,  tapi,  seorang guru pun tak kunjung datang,  Taka sangat membenci hal ini.  “Where is,  Kirief-sensei ne?!”  kesalnya,  Haruka menengok dan tertawa.  Taka pun keluar kelas berusaha untuk mencari Kirief-sensei.  Dia mencari untuk pertama kali ke kelas disebelah kelas nya,  kelas dimana Zumi-senpai,  kakak kelasnya berada,  saat masuk ke kelas,  ia berkata “Ohayou.”  Dan melihat ke sekitar,  sampai akhirnya pandangan dia berhenti pada satu anak laki-laki yang menggunakan jaket hitam...  To be Continued. 








            

Tidak ada komentar:

Posting Komentar