Terangnya langit mulai meredam,
tanda sang dewa matahari enggan menampakkan sinarnya atau karna sang
angin menghembuskan sang awan hingga menutupi keberadaan sang dewa
matahari? Entah. Mendung,
satu kata yang tepat untuk mengambarkan cuaca ini. Keadaan sang awan yang tak dapat membendung
kesakitan yang ia alami dari air-air hujan,
air-air yang awalnya tidak berada padanya, berada pada sang lautan lepas, entah karna jenuh atau karna ingin
mendapatkan suasana baru, air-air itu
beralih ke awan, awan dengan lugu nya
tak dapat menolak keberadaan sang air dan dengan senantiasa menerima kedatangan
sang bulir-bulir air, sampai akhirnya ia
tak kuasa dengan perilaku air, saat ia
mulai terbawa oleh angin, dan ingin segera melepas air-air itu. Cuaca yang tak pernah dapat diduga.
Satu langkah, dua langkah,
dan langkah-langkah berikutnya yang ditempuh oleh seorang gadis manis
bernamakan Taka Atsuko. Menapaki pinggir
jalan dengan mantel bulu berwarnakan coklat krim dan shall dengan warna
senada, sambil mendengarkan beberapa
lantunan lagu yang ia putar melalui MP3 miliknya. Wajah putih pucat dan lesuh yang ia tampakkan
saat itu. Sehabis pulang dari SMA
nya. Berkali-kali ia melihat kearah jam
tangan berwarnakan coklat yang ia pakai saat itu, ‘hujan akan segera turun’ mungkin itu dalam batinnya. Seperti biasa, dia menunggu bus berwarnakan merah tua yang
biasa ia naikki untuk menuju ke Apartement yang ia tempati. Sembari menunggu, ia berulang kali melihat ke sekelilingnya
lalu menghela napas, dapat terlihat
jelas, dia sedang ada masalah.
Pemandangan
disitu hanya ada rumah-rumah kecil yang tidak terurus, apartement yang sedang dibangun, dan...
Tunggu, diamana kucing kecil
berwarna putih yang setiap saat pulang ia pasti melihatnya?. Kucing kecil bernamakan Oreki, nama yang ia buat untuk kucing kecil
itu. Beruntungnya kucing kecil itu, bukan sembarang hal yang dapat diberikan nama
oleh Taka. kucing kecil yang tiap saat
Taka melihatnya, ia berkata “Kawaii desu
neko, ne”. Taka mencarinya dengan melihat sekelilingnya
dengan teliti, tanpa ia sadari, bus merah tua yang ia tunggu sudah ada di
depannya, ‘Its not the time to see
you, Oreki. Where are you?’ Katanya dalam hati
sembari menaikki bus merah tua itu. Saat
diperjalanan, ia terus memikirkan kucing putih kecil itu. Terus memikirkan, sampai saat dia melihat lelaki berjaket hitam
sedang menggendong kucing kecil yang ia cari.
“Who is he? I believe, that is Oreki. Mengapa Oreki berada dalam gendongannya?” kata itu keluar begitu saja dari
mulutnya, seorang ibu dari anak kecil
yang ibu itu gendong menengok kebingungan dan bertanya “Are you okay?”, Taka membalas tengokannya dengan menjawab
dengan anggukan, ibu itu hanya menjawab
“Yokatta.” dan mengalihkan
padangannya. Taka yakin sekali, Oreki
tidak ada yang memiliki, ia
sangat ingin memeliharanya, namun apa
daya? Peraturan dari tempat ia tinggal
nya lah yang melarang seseorang untuk membawa hewan peliharaan ke dalam
ruangan.
Hari yang
melelahkan. Taka langsung melempar tas
kecilnya yang berisikan buku-buku dan
notebook miliknya, sontak ia berkata
“Damn. Oh god, why?”.
Masalahnya yang membuat ia benar-benar merasakan sangat penat. Ditambah lagi, dengan ingatan tentang lelaki berjaket hitam
yang menggendong Oreki, anjing kecil
yang ia cintai. Taka menyalakan perapian
yang ada didalam ruangannya, ia berjalan
menuju dapur kecilnya dan membuat secangkir kopi panas untuk menghangatkan
dirinya saat itu, Jepang memang sedang
dilanda Salju sejak 2 hari yang lalu.
Taka mendekat ke perapian yang ada didekat kasurnya. “Siapa laki-laki itu? Apa dia pemilik Oreki? Aku seperti sering melihat wajahnya di kelas
sebelah. Orang Jepang atau siswa
pertukukaran juga? Aku harus
menemukannya esok hari.” Kata nya. Ia
merebahkan tubuhnya yang mungil namun cukup tinggi diatas kasurnya. Melepaskan semua penat dalam otaknya. Lagi-lagi ia menghembuskan napas yang
mengisyaratkan, ia sedang banyak
beban.
Tanpa
disadari, ternyata pelepasan beban dan
penat dalam dirinya itu sekaligus menjadi waktu istirahat panjangnya. Ia tertidur pulas hingga pagi. Sudah waktunya ia bersiap-siap berangkat ke
tempat ia melanjutkan pelajaran, sebuah
SMA yang lumayan terkenal di Tokyo. Ia
menggunakan jaket berwarna putih polos dan shall dengan warna coklat krim yang
kemarin ia gunakan. Saat itu, cuaca memang tidak mendukung, memaksa seseorang yang seharusnya pergi
beraktifitas untuk menghentikannya. Taka
juga memang sedikit malas untuk berangkat ke sekolah nya, namun ia memaksakan, karna ingin mencari ‘Neko-kun’. Nama yang saat Taka sedang berdandan
fikirkan. Dia benar-benar ingin tahu
tentang lelaki si penggendong Oreki.
“If I have a
handphone, pasti semua terasa lebih
mudah, dengan menelepon Haruka untuk
menjemput ku.” Keluh Taka sejenak. Di jaman dan di negara yang berkembang sangat
pesat di Dunia ini, Taka memang memilih
untuk tidak mempunyai handphone, uang
yang pernah diberikan orang tuanya untuk membeli handphone di daerahnya, ia tabung untuk membeli keperluannya
sewaktu-waktu. Sekarang, untuk berkomunikasi dengan orang tua
nya, ia menggunakan telepon umum atau
telepon pinjaman dari Apartement. Keluh
nya tidak menghasilkan apapun,
tapi, paling tidak ia dapat
mengisi waktu sembari berjalan menghadapi salju yang menerpa nya untuk menuju
ke sekolah.
Saat di
perjalanan, dia menemukan lelaki dengan
jaket hitam yang berlari kencang dari belakang.
Lelaki itu menabrak Taka sampai jatuh,
“Gomen ne.” Kata lelaki itu
dengan membungkukkan badan sejenak dan kembali berlari. “Wait..
Itu kan lelaki yang.. ? Ah, apa benar?
Tepat! Ia berlari ke arah sekolah
pastinya. Aku akan mengikutinya.” Taka berlari mengikuti jejak lelaki itu. Sesampai di depan gerbang, Taka melihat kedepannya, lelaki itu sudah menghilang. Taka sekarang hanya menarik napas dan
menghembuskannya berkali-kali, dadanya
sesak, cuaca dingin dan ia memaksakan
untuk bergerak cepat demi mengejar lelaki itu.
Taka terjatuh, dia terus memegang
dadanya dan memukul-mukulnya, “Need
help?” terlihat gadis cantik yang
mengulurkan tangannya kepada Taka, tanda
ia memberi bantuan. Itu Haruka
Morashima. Teman sekelas Taka. “Huum,
thank you.” Taka memberikan
tangannya kepada Haruka. Haruka membantu
Taka berjalan hingga ke kelas.
Ternyata, pelajaran hampir di mulai. Saat Taka sampai di bangkunya, “Arigato gozaimasshitta, Haruka-chan,
without you...” saat kata ingin
melanjutkan katanya, Haruka langsung
menyela dengan “He... Douita ne. Are you okay?” Taka hanya tersenyum dan mengangguk. Keadaannya sekarang sudah membaik
sekarang. Memang Haruka adalah teman
yang sangat ia banggakan sejak awal masuk sekolah ini.
Jam pelajaran sudah dimulai sejak 15
menit sebelumnya, tapi, seorang guru pun tak kunjung datang, Taka sangat membenci hal ini. “Where is,
Kirief-sensei ne?!”
kesalnya, Haruka menengok dan
tertawa. Taka pun keluar kelas berusaha
untuk mencari Kirief-sensei. Dia mencari
untuk pertama kali ke kelas disebelah kelas nya, kelas dimana Zumi-senpai, kakak kelasnya berada, saat masuk ke kelas, ia berkata “Ohayou.” Dan melihat ke sekitar, sampai akhirnya pandangan dia berhenti pada
satu anak laki-laki yang menggunakan jaket hitam... To be Continued.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar